Senin, 28 Oktober 2013

Pernikahan yang Tertunda

Mau cerita tentang tanggal 12 Oktober dan  26 Oktober nih. Baru bisa post karena lumayan udah redah perasaan untuk menceritakan hal ini.
                         
Sabtu, 12 Oktober 2013
Ko Marcel kecelakaan pulang dari butik yang dia percayai menangani pakaian pernikahan dia dan ce Wanda. Ko Marcel menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit pukul 01.00 p.m. Kami semua keluarga koko bingung mau kasih tau ke ce Wanda gimana. Gue pun ke rumah ce Wanda buat kasih tau berita duka ini, pas gue kasih tau ce Wanda.... Susah untuk dijelaskan. Gue dan ce Wanda langsung menuju ke rumah sakit.

Gue ngerasa hancur! Apalagi ce Wanda, dia sampai pingsan. Gimana engga? Mereka udah mempersiapkan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan tanggal 26 Oktober 2013. Busana pernikahaan udah jadi seseuai yang mereka inginkan, kue pernikahan juga udah di pesan, gedung untuk acara udah di booking, makanan dan sebagainya juga udah dipersiapkan. Sebagian undangan juga udah disebar ke kerabat yang jauh. Bahkan gue yang jadi pengapit, udah beli dress putih yang disesuaikan dengan gaun ce Wanda.

Pastinya kita tahu kan perasaan ce Wanda hancurnya seperti apa. Saat ko Marcel dimasukan ke peti, ce Wanda mencoba menahan air mata. Ya Tuhan betapa tegarnya ce Wanda! Ia sangat luar biasa! Bahkan saat peti ditutup ce Wanda masih dengan sikap tenangnya. Ce Wanda merelakan kepergian koko.  Dipemakaman ce Wanda bilang kalau dia sangat mencintai koko, bahkan meminta koko untuk menunggunya.

Tepat tanggal 26 Oktober 2013
Ce Wanda ke pemakaman dan gue mengantar cece. Ce Wanda bilang kalau dia memang mengharapkan terlaksananya sebuah moment indah ini. Tapi ce Wanda menerima semua keputusan Tuhan. Ce Wanda juga bilang kalau pernikahan mereka itu bukan batal, tetapi tertunda.


Banyak kejadian di sekeliling gue yang dapat di jadikan pelajaran. Tentang meninggalkan dan ditinggalkan, merelakan dan direlakan, mencintai dan dicintai, melepaskan dan dilepaskan, mengenang dan dikenang, melupakan dan dilupakan, menyakiti dan disakiti, dan masih banyak lagi. Sungguh besar Tuhan, satu hati dapat merasakan banyak hal. Semua rasa pasti memiliki makna dan hikmah tersendiri yang dapat dijadikan pelajaran. Kita harus bersyukur akan segala yang Tuhan beri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar